Posts

Pengarep

Image
Kelasku baru saja selesai. Sesaat setelah dosenku mengucapkan salam, aku langsung meninggalkan ruang itu. Kalau saja tidak karena diancam harus berhenti sekolah, mungkin hari ini aku tak kuliah lagi. Ada hal penting sore ini. Hal yang selalu kunanti setiap tahun. Juga yang selalu kupersiapkan setiap kedatangannya. Hanya butuh beberapa detik aku sampai di depan sebuah vespa biru. Kuambil helmku dan bersiap memakainya. Tapi, ah... Kepalaku gatal sekali. Setelah garuk-garuk kupakai helmku. Aku tak punya banyak waktu. Vespa tua itu segera kugeber. Menuju tempat yang sedari tadi menghantuiku di kelas. *** Petikan-petikan gitar sudah terdengar dari luar. Usai kuparkir motor kesayanganku, aku langsung masuk. Sekali lagi, waktuku tak banyak. Terakhir Bimo mengabariku sudah grup kelimapuluh tiga yang tampil. Begitu sampai di dalam. Bimo dan Aryo sudah di atas panggung, siap dengan gitar masing-masing. Tanpa pikir panjang, segera kusandang gitar dan berdiri di depan mikrofon. Tak be...

Manilkara Kauki, Padamu Kugantungkan Harapan

Image
  Sebuah bus merah mendekat. Mata Kauki terlihat berair. Itu adalah bus milik Dinas Kebudayaan. Bus itu akan membawa para penari yang akan ke ibukota. Suara rem terdengar berdecit. Bus merah itu telah berhenti tepat di depan Kauki dan Dipta. Saat itulah, mata Kauki tak lagi bisa berbohong. Semilir angin bertiup dari utara, sedikit dingin. Aroma perpisahan kian dekat. Bus yang berhenti itu sudah membuka pintunya, siap mengangkut penumpang. Dipta melepas pelukannya. Jemarinya dengan lembut mengusap pipi Kauki yang basah. Senyum merekah di bibirnya. “Aku tak ingin mengingat airmatamu.” Tangan Dipta masih mengusap pipi merah Kauki.   Di balik kaca jendela bus itu, Dipta melambaikan tangan. Ia tersenyum lega. Kauki terus tersenyum di luar sana meski air matanya tak berhenti meleleh. Senyum itulah semangat dan bekal terbaik baginya. Rupanya senyum itu begitu dahsyat. Dipta ingin terus melihat senyum itu. Dia ingin Kauki bahagia. Karena itu, Dipta selalu semangat. Hi...

Kemana Perginya Si Apel?

Image
              Hari begitu penat, panas disertai angin yang bertiup kencang, menggulung debu-debu jalanan yang kerontang. Sejenak kemudian, terdengar teriakan dari belakang. Menghancurkan lamunanku yang sudah ingin segera keluar dari bus yang gerah, berjejalan penumpang ini.             “Ayo siap-siap yang perempatan,” aba-aba dari Pak kondektur mengingatkan penumpangnya.             Tak lama, berhentilah bus itu. Kemudian penumpang-penumpang mulai antri keluar dari Kawan Kita, termasuk juga aku. Semilir angin dari selatan menyambutku, cukup menyejukkan meskipun tetap membawa hawa kemarau yang kering. Aku pun segera bergegas, mengingat perjalanan panjang masih menungguku.             Dengan peluh yang mulai bercucuran aku mengayuh sepedaku ke barat, mena...