ABAHKU (1): Seruan Sholat Abah
Mataku mengerjap-ngerjap. Aku merasa sangat silau. Ketika akhirnya kedua mataku terbuka, aku bisa melihat ruangan ini dengan jelas. Empat buah lampu menyala terang di atasku. Kemudian aku menoleh, Dila masih terlelap di sampingku. Ah, jam berapa ini? Dengan kesadaran yang belum penuh`, aku bangun. Kuambil smartphone -ku yang sengaja kutaruh di sampingku sebelum aku tidur. Seketika handphone itu menyala saat kutekan tombol on di sisi kanannya. Darinya kulihat empat buah angka berjejer. 04.30. jam setengah lima. “Salat, salat, salat....” Sekali lagi aku mendengar suara yang telah membangunkanku itu. Sebuah suara pelan yang terdengar jelas di kesunyian hari yang masih dini. Halus dan menyentuh. Membuatku enggan melewatkan ajakannya untuk menunaikan salat subuh. *** Bangunan tiga lantai ini kini menjadi rumah baruku. Pun dengan sebuah kamar yang berisi dua puluhan orang lebih, yang jadi tempatku tidur sekarang. Aku juga akhirnya mendapat seorang Abah baru. Pria paruh ...